MEDAN, gianTnusantaranews.com - Eskalasi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat saat ini memaksa negara-negara di dunia untuk melakukan kalkulasi ulang terhadap kekuatan militer, pasokan energi, hingga jalur perdagangan global.
Indonesia pun tak luput dari pusaran dinamika tersebut, terutama dalam memposisikan diri sebagai negara yang mulai diperhitungkan dalam percaturan politik internasional.
Hal ini ditandai dengan langkah diplomatik yang dilakukan secara simultan, di mana Presiden Prabowo Subianto melakukan lawatan ke Rusia, sementara di waktu yang hampir bersamaan, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin diterima oleh Menhan AS Pete Hegseth.
Ketua Bidang Pertahanan DPP PROJO, Abi Rekso, menilai langkah "dua wajah diplomasi" ini merupakan sebuah strategi yang berani dan menunjukkan posisi Indonesia yang kian kuat di mata dunia.
Abi memaparkan bahwa tidak mudah bagi sebuah negara untuk membangun posisi “multi-alignment diplomacy” atau diplomasi multi-blok secara bersamaan, terlebih di tengah situasi krisis global yang penuh ketidakpastian.
"Tidak semua pemimpin di Asia mampu memainkan multi-alignment diplomacy seperti yang dilakukan Presiden Prabowo saat ini," kata Abi Rekso, Rabu (15/4/2026).
Menurut Abi, posisi ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki tingkat akseptensi atau penerimaan yang sangat tinggi di mata para pemimpin negara adidaya, baik di blok Barat maupun Timur.
Ia menegaskan, langkah tersebut sepatutnya menumbuhkan rasa optimisme di tengah masyarakat bahwa Indonesia sedang bergerak menuju posisi sebagai negara besar.
"Ini adalah tanda-tanda Indonesia akan menjadi bangsa yang besar. Kita harus bangga melihat bagaimana diplomasi kita diterima oleh kekuatan-kekuatan utama dunia," tegasnya.
Di sisi lain, Abi Rekso juga memberikan tanggapan terkait usulan Mantan Menlu Dino Patti Djalal yang menyarankan agar Presiden Prabowo kembali memperkuat diplomasi dalam kerangka ASEAN.
Secara lugas, Abi menilai usulan tersebut sebagai gagasan yang sudah usang dan tidak lagi relevan dengan tantangan geopolitik masa kini.
Ia menuturkan bahwa gagasan ASEAN pada awalnya merupakan bentuk reaktivasi kawasan Asia Tenggara di era Perang Dingin, yang menjadi manifestasi dari Doktrin Truman dan Marshall Plan.
Oleh karena itu, Abi berpendapat Indonesia kini perlu lebih memposisikan diri dalam kawasan Asia-Pasifik yang lebih luas guna mengantisipasi potensi perang proksi (proxy war) yang kian nyata di Asia.
"ASEAN tidak lagi cukup relevan untuk merespon situasi global saat ini. Fokus kita harus ke Asia-Pasifik untuk menjaga kepentingan nasional," jelasnya.
Lebih lanjut, Abi membocorkan adanya potensi kabar baik dari hasil lawatan ke Kremlin, Rusia, terutama terkait kepastian pasokan BBM dan LPG, serta jaminan kelancaran jalur Hormuz.
Sementara itu, dari sisi Amerika Serikat, Indonesia berpeluang meningkatkan hubungan teknologi pertahanan melalui Major Defense Cooperation Partnership (MDCP).
Ia pun menekankan bahwa dalam situasi dunia seperti sekarang, pemerintah harus memprioritaskan strategi yang disebutnya sebagai '3M'.
"Prioritas utama kita saat ini adalah 3M: Misil, Minyak, dan eMas. Inilah yang akan memperkuat posisi tawar Indonesia di kawasan Asia-Pasifik ke depan," tutup Abi Rekso.
gpt/gianTnusantaranews.com
